Don’t make me wait too long


Don’t make me wait too long 

I’m just afraid my stories would be outdated

Don’t make me wait too long

I’m going insane and being annoying 

Don’t make me wait too long

Because I can’t wait any longer

Advertisements

Kenapa ngga dari dulu


Dulu kamu yang mulai nyapa aku. Dari awal aku sudah sangat jaga jarak. Kamu terus berusaha biar bisa akrab sama aku. Kamu ajak aku ngopi, aku masih sangat jaga jarak, aku batasi waktu nongkrong kita dan jarak tempat ngopi dari rumah. Kalau kamu ga suka sama aku, kenapa ga dari dulu kamu batasi interaksi sama aku?

Setelah berhasil menjadi lebih akrab, aku masih selalu jaga jarak. Walaupun begitu, aku tetap berusaha bersikap sebaik mungkin. Kemudian kamu berusaha untuk lebih akrab lagi sama aku. Apa semua itu salah aku? Kalau kamu ngga suka sama aku, ga usah repot-repot peduli, bersikap akrab dan baik sama aku pada saat itu. Abaikan aku. Jalanin hidup kamu sendiri. Aku baik-baik saja kalau dari tahap ini kamu menjauh.

Lalu aku mulai cerita tentang kehidupan aku. Kamu bilang, “Iya gapapa, cerita aja, kaya baru kenal kemarin aja.” You build the trust on me for you. Ga perlu repot-repot, Mas. Kalau ga suka sama aku, ga perlu repot-repot kaya gitu. 

Lalu kamu juga mulai membuka diri. Kamu ajak aku makan siang, aku masih menjaga jarak. Kamu mulai peduli sama aku. Telfon aku kapan aja pas kamu mau. Kamu inget nggak? Kamu telfon dan missed call aku lebih dari 10x? Maksud kamu apa? Dan pada saat itu kamu sedang tidak butuh saran untuk TA kamu. Pada saat itu aku cerita kalau aku sedang down dengan banyaknya kerjaan. Ngga perlu repot-repot bilang mau jemput aku, sok2 perhatian. Aku bisa jaga diri aku sendiri. Dan kamu juga ga suka aku. Ga perlu repot-repot peduli dan perhatian. Terimakasih sudah berniat baik. Aku sudah biasa mengatasi semua sendiri.

Saat kita sudah nyaman (pada dasarnya aku gampang nyaman berinteraksi sama orang2), dan ini kamu sendiri juga yang bilang ke aku, kamu nyaman pada saat itu, kita saling terbuka, kamu masih butuh aku untuk bantuin kamu. I’m fine, I’m sincere helping others. Aku mulai menunjukkan sifat asliku yang biasa aku tunjukkan ke sahabat dan keluargaku. Kamu bilang aku teman nongkrong biasa. Oke, fine. 

Aku sedikit jaga jarak pada saat itu, jaga jarak karena pada dasarnya aku memang orang yang menyebalkan. Kamu masih membutuhkan aku. Kamu masih bisa terima aku. Kalau kamu ga suka, cari bantuan dari dosen lain. Aku orang yang menyebalkan. Jauhi aku. 

Tugas aku untuk bantuin kamu selesai. Semua selesai. Kondisi masih baik walaupun sudah kurang menyenangkan. Kamu mulai ga peduli aku, kamu sudah ga butuh aku. Aku kehilangan teman nongkrong. Aku kehilangan teman jogging. Aku kehilangan teman cerita

Situasi semakin tidak menyenangkan. Kamu sudah tidak butuh aku lagi. Kamu mulai meremehkan aku. Aku sudah sangat menyebalkan. Kemudian semua berbalik. Kamu yang mulai membatasi diri kamu. Kenapa ngga dari dulu kamu ikutin apa yang aku lakukan? Dulu kamu malah membujuk agar lebih akrab. Baru sekarang kamu batasi diri kamu ke aku. Salah aku bersikap menyebalkan?

Situasi sudah tidak menyenangkan lagi. Kamu berubah. Kamu sudah tidak butuh aku lagi. Untuk apa bersikap baik ke aku? Aku sudah ga ada gunanya untuk kamu. Lagian kamu sudah meninggalkan kampus.

Semua berubah. Aku berubah. Kamu berubah. Aku berusaha memperbaiki. Kamu lupa yang dulu2. Yang baik-baik. Kamu akhirnya bilang ga suka. Kamu marah. Kamu bentak aku. 

Kenapa ga dari dulu kamu sih kamu membatasi diri ke aku? Biar hubungan kita baik-baik aja. Normal. Tau batasan masing-masing. Bukan kaya gini. Buruk. Sikap kamu masih menyepelekan. Hilang rasa kamu untuk menghargai perasaan aku. Hilang rasa peduli kamu saat aku sedang kesusahan. Dulu kamu ga kaya gini. Dulu kamu peduli. Dulu kamu respect. Bahkan kamu perhatian.

Something Just Like This dan Filosofi Sepatu


Sebelum pada bertanya-tanya, kok judulnya kaya judul lagu? Jadi, tulisan ini sebenernya terinspirasi dari lagu Chainsmoker&Coldplay yg judulnya “Something Just Like This”. Yup “Something Just Like This” menurut saya, punya arti yang mendalam. Sama seperti tulisan saya sebelumnya mengenai kamu, pulang dan rindu. Yuk mari simak pemaparan saya.

Pertama-tama saya mau mengkaitkan “Something Just Like This” dengan filosofi sepatu. Bukan, bukan sepatu lagu dari musisi Indonesia, Tulus. Jadi, gini, kalau kamu beli sepatu, kamu pilih sepatu yang seperti apa? Apa pertimbangan kamu waktu membeli sepatu? Apakah sepatu itu kamu gunakan terus atau kamu akan membeli lagi yang baru saat kamu bosan? Kamu punya sepatu favorit? Sepatu favorit yang kamu gunakan terus menerus walau sudah usang. Apa kriteria sepatu favorit kamu itu? Ya, yaa memang agak panjang panjelasan filosofi sepatu ini. Kalau saya, saya punya sepatu favorit. Kenapa favorit? Karena sepatu tersebut menurut saya sangat nyaman untuk dipakai. Walaupun sepatu tersebut sol bawahnya sudah rusak. Sudah berusaha saya perbaiki dengan merekatkan kembali menggunakan lem serba guna. Namun, tetap saja sekarang solnya jebol lagi. Sepatu itu masih saja saya gunakan walau saya punya yang baru.

Nah, pertimbangan dan kriteria saya dalam memilih sepatu pertama kali adalah menarik bagi saya. Lalu ketika dicoba di kaki, cocok dengan kaki, baik ukuran maupun model dan warna. Semua sepatu saya punya kriteria yang sama. Tapi, tidak semua sepatu menjadi favorit, yang terus menerus digunakan kan? Model yang saya sukai cukup mudah, saya suka yang simpel, itu saja. Tidak berlebihan. Warna cocok di kaki saya. Harga pun sesuai dengan yang diinginkan. Sepatu yang sekarang menjadi favorit saya berwarna cokelat kakhi, flat shoes sih tapi menurut saya enak sekali digunakan. Kondisinya sekarang sol hampir lepas, sudah terlihat pecah-pecah pada kulit terluar sepatu, dan bernoda.

Then, hubungannya apa dengan “Something Just Like This”? Yup, I want somethis just like that old shoes but still comfortable when I wear it. That broken shoes but still support me while I’m walking in every path I took. That (already) ugly shoes (for others) but I still like it. Though I have other more beautiful shoes and sure, that shoes comfortable too, but I prefer wear that favorite shoes again and again. And the point is I want something just like this. Saya cukup dengan yang seperti itu. Belum ada kata bosan. Bukan untuk bragging atau sombong, harga sepatu favorit saya itu sangat affordable bukan sepatu mahal seperti (mungkin) perkiraan banyak orang. Sepatu favorit saya itu bukan sepatu branded yang lagi hits dipakai beberapa orang. Bukan. Bukan sepatu spesial buat orang lain. Sepatu favorit saya mungkin hanya spesial untuk saya.

Dari lirik lagu Coldplay tsb, yang “Something Just Like This”, ada kalimat yang menjadi favorit saya juga. Kalau kata Coldplay di lagu itu, “I’m not looking for somebody with superhuman gifts”. Saya tidak mencari seseorang yamg mempunyai kekuatan super. Sama seperti kriteria ketika saya membeli sepatu. Saya tidak mencari sepatu yang bisa membuat saya terbang. Ketika saya mencari “seseorang” itu, saya mencari sama seperti filosofi sepatu yang saya ceritakan. Tidak perlu yang memiliki “superhuman gifts”, kalau realitanya yang terlalu sempurna.

Jadi, sama kaya di lagu Alicia Keys, If I Ain’t Got You, “Some people want it all. But I don’t want nothing at all. If it ain’t you, baby. If I ain’t got you, baby”. Aku maunya kamu. Aku nggak butuh yang terlalu sempurna. Bukan yang sangat kaya. Bukan yang sangat pintar. Cukup kamu yang kaya kamu. Bukan orang lain. I want something just like this.

Satu lagi kalimat favorit saya di lagu “Something Just Like This”, lanjutannya yang tadi sih, “I’m not looking for somebody with some superhuman gifts. Some superheroes. Some fairy tale bliss. Just something I can turn to somebody I can miss. I want something just like this”. Biar lebih syahdu, kata saya akan diganti menjadi aku. Aku tidak mencari seseorang yang mempunyai kekuatan super, ataupun superheroes bahkan fairy tale bliss. Aku cuma mau sesuatu yang bisa jadi seseorang yang aku rindukan. Cukup yang seperti ini. Iya, cukup yang seperti itu. Seseorang yang bisa dirindukan, menjadi tujuan pulang, itu kamu.

Sekian. Enjoy filosofi ala saya hahaa.

Harapan di Januari


Menilik post di salah satu akun sosmed saya, dan menemukan tulisan ini. Harapanku.

Kesendirian tidak membuatku sepi tapi buatku berpikir

Kegagalan tidak membuatku jatuh tapi buatku tetap berjuang

Kesenangan tidak membuatku lalai tapi buatku sadar akan berbagi

Kerapuhan tidak membuatku lemah tapi buatku kuat

Kesedihan tidak membuatku benci tapi buatku tabah

Kehebatan tidak membuatku sombong tapi buatku hati-hati

Kehidupan tidak membuatku sengsara tapi buatku bersyukur  

Kamu, Pulang, dan Rindu


Kalau kata Aditya Mulya di Sabtu Bersama Bapak, “Apa ada kata lain di kamus yang melebihi kata rindu?” Well, I couldn’t agree more. Rindu has a deep feeling and meaning for me. Kata melebihi rindu, hmm kalau ada, itu untuk KAMU. Rindu, kalau kata Fahd Pahdepie di buku Jodoh, rindu bisa muncul karena adanya jarak. Ahh kalau di soundtrack AADC bilangnya gini, “Kata orang rindu itu indah. Tapi bagiku ini menyiksaa”. Dan interpretasi saya terhadap kata Rindu, itu semua benar. Rindu terbentuk dari jarak, yg indah kalau jarak tersebut bisa diperkecil, tapi lama-lama menyiksa kalau jarak yg terbentuk semakin jauh. Rindu, aku akan sangat Rindu Kamu, ya Kamu tempat aku Pulang.

Kamu. Kamu untukku tempat bersandar. Kamu untukku tempat berkeluh. Kamu kadang menjadi panggilan yg bermakna keakraban, keintiman, kemesraan, atau bahkan kesenioran dan pangkat. Sebenarnya menurut saya, ada satu kata pengganti kamu yang lebih bermakna ‘intimate’, yaitu dirimu. Tapi kata Kamu, with a deep feeling, berarti dalam buat saya. Kamu di sana yang memintaku untuk menunggu. Kalau Kamu yakin, aku pasti akan menunggu Kamu di sini, tetap di sini agar Kamu mudah menemukanku kembali. Itu contoh kalimat yang menurut saya, has a deep feeling of Kamu πŸ™‚ Dan lebih menggambarkan intimasi lagi ketika panggilan untuk diri sendiri menjadi Aku. Aku dan Kamu. Aku akan selalu kembali padamu, karena Kamu adalah tempatku Pulang. Aku rindu Kamu dan Pulang πŸ™‚

AKU PULANG. Well, that sentence for me is the most heart warming sentence. Aku pulang, kembali padamu. Kalau dilagu Us the Duo, “Take me home to ur arms”. Pulang berarti Aku kembali ke tempat paling nyaman, aman, damai di manapun itu. Pulang, kembali setelah bepergian sejauh apapun itu. Pulang, itu Aku buat Kamu. Pulang, itu Kamu buat Aku. Pulang, tempat ak kembali dimanapun Kamu berada. Pulang, ya Aku pasti pulang. Aku pulang dan selalu akan kembali padamu. Aku pulang, ya karena jarak aku dan kamu yg membentuk rindu kian besar, dan aku pulang, karena rinduku padamu. Aku pulang dan selalu kembali padamu, karena aku rindu, kamu rindu.

Tiga kata yang menurut saya bermakna dalam, Kamu, Rindu,dan Pulang. Di tulisan ini mungkin banyak kalimat-kalimat klise. Tapi saya sedang suka membuat tulisan dengan kalimat klise seperti itu. Kalimat klise tentang Aku dan Kamu.

Ditulis ketika sedang dalam perjalanan. Aku pergi sebentar. Aku pasti pulang dan kembali padamu. πŸ™‚

I need someone who


First thing: I need someone who remind me to pray when I delay it or forget the time

I need someone who will hold my hands and take me to Jannah (aamiin)

Then: I need someone who love travelling then we get lost together
Others: I need someone who like to visit some random place and join many friend’s invitation
I need someone who can understand what I want when I’m bored or tired
I need someone who has the same hobby as mine, book and coffee then we talk about the content of the book while we enjoy some coffee
I need someone who could understand what I said even a weird things or some scientific stuff or some ‘rebel’ things
I need someone who has passion then he could talk to me about many interesting things
After all: I need someone who can share his life with me
I need someone like you
I need You πŸ™‚
And Allah lead my way to find you

To: My dear future husband πŸ™‚ (isi bisa disesuaikan atau diubah sesuai kenyataan in the future hahaa)

Blind Spot


When you look around but you cant find where am I
When you look beyond then you couldnt saw the red balloon
When you surrounded by many people and your pen was falling then you lost ur sight where the pen is gone
The seat across the street column 4/6 and the second from behind
The emptiness heart while you laugh, chit chat with friends who you share the most, who you comfortable with
When you cant look back while you seat at the front
When you drive like a flash then what you see are the flash
The scar from the past but you already forget abt it
Memories abt you, yes you (#ehm baper 😜)
When you want to tell something but you forget the words you want to tell
A part of road you cant see while you drive
A kindness from others that you cant remember when and what
Blind spot

I saw me on them


I saw me on them
They are really passionate to chase their dream
I saw me on them
They grow wiser and wiser in their young-age
I saw me on them
They laugh a lot, play hard, doing some challanges, dare to take a risks
I saw me on them
We are not perfect as they thought abt us, we just another young people who sometimes lazy to go to school, lazy doing our homework, messy desk, messy room, always late when we have a promise with someone and doing others hate-able habit
I saw me on them
Optimist
I saw me on them
Apathy (sometimes)
I saw me on them
Radical
I saw me on them
Passionate
I saw me on them
But I realize that they are different from me
I saw me on them
I realize that they are different from me, they are smarter
They are ambititious
They are perfectionist
They are more active
Ahhh I saw me on them but they are different from me. I realize that I shouldnt treat them like my teacher treat me or other people treat me. I ralize that I should treat them in different way and teach them differently.
Because I saw me on them, they are not me.
☺

I Stay


Yup..
I stay

I stay here

Sure, with some reasons

I stay, mmm I stay because I have a dream
I stay, yes I choose to stay because I need to change something here
I stay to be a better person and perhaps, in the future, a great person
I stay, yup, again, I’ll stay because I wanna run with them to achieve a further step to be awesome
I keep my ego and I stay to learn a lot
Left my idealism behind then I stay to catch a bunch of opportunity
Put the arrogant-me down while I stay to get more experience to tell and share
I stay because of them
I stay because of you

May this path is the best choice which Allah made for me
Cheers!!
:)☺

Teman saya, Bersyukur dan Berbahagia


Atas permintaan teman-teman, saya akan re-post cerita ini di blog saya. Ini hanya cerita fiktif berdasarkan pengalaman nyata. Enjoy the story!

teman saya, ya teman saya. terdengar kabar gembira yang terlontar dalam tulisan YM saya. tulisan itu, tulisan teman saya. kabar yang dapat membuat semua orang bertanya-tanya. dan pasti membuat mereka sangat gembira.

di depan rumah, rumah kos sederhana yang dihuni oleh 10 orang perempuan, seorang wanita berwajah manis yang sangat anggun berdiri. terlihat semburat senyum merekah terlukis di wajahnya. ya tampak cantik dia hari ini. walau dengan kondisi kesehatan yang tidak cukup baik, namun suasana hatinya terpancar pada wajahnya yang ayu. ohhh, tentu saja dia tak berdiri sendirian sambil senyum-senyum sendiri. yaa, ada pria di depannya yang sedang mengobrol dengannya dan mereka tak lagi berdiri, mereka duduk di bangku taman yang diletakkan di depan rumah kos tersebut. kata-kata mengalir terucap dari bibir mereka berdua. hanya mereka yang tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

sang pria dengan mantap berbasa-basi dengan mengantarkan catatan kuliah untuk dia, perempuan ayu itu. tawa kecil pun tak luput dari wajahnya. dan sang wanita tak tahu apa yang akan si pria katakan. sehingga pada akhirnya dan cukup mengejutkan akhirnya mereka, ya tentu seorang pria yang duluan, mengungkapkan isi hatinya.

cukup mengejutkan. dan bahkan membuat sangat terkaget-kaget. tapi lukisan senyum bahagia tak bisa lepas dari wajah ayu wanita itu. tentu saja, tentu saja dia bahagia setelah menyimpan kesabaran yang cukup lama menunggu yang terbaik, takdir dari Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui.

semua pun turut bahagia. semua sahabat bersorak soray. dan semuanya menyambut berita bahagia ini dengan hati yang penuh akan kelegaan. entah apa yang saya tulis ini.

dia mangabari saya lewat YM, saat kami berchatting dan saya menanyakan perihal kondisi kesehatannya. sepertinya dia masih malu. dia memberi tebak-tebakan. saya sebenarnya sudah bisa menebak apa yang terjadi. namun saya pancing dia untuk berbicara langsung tanpa basa-basi. tapi masih malu.

beberapa menit kemudian, hanphone saya bergetar. ada pesan tulis yang masuk. ohh ternyata semua berbahagia. semua sahabatnya. dan saya pun juga bahagia.

bersyukur dan berbahagia πŸ˜€

nb:kisah khusus untuk vitaa maniss πŸ˜€

cerita ini hanya fiksi dan karangan belaka, jika ada kemiripan dalam cerita, itu wajar ajahhh..hahhaaa :))

untuk cerita yang asli, bisa ditanyakan langsung pada yang bersangkutan